Jakarta, 08 Desember 2012
Perjanjian Maatstricht
Perjanjian Maatstricht
Kisah euro bermula dari
Maatstricht, Belanda. Sebuah Eropa yang bersatu dalam berbagai bidang dan
kebijakannya, baik ekonomi, sosial maupun politik, itulah yang ingin diraih
oleh penandatanganan Perjanjian Maatstricht atau Maatsricht Treaty oleh 12 negara Komunitas Eropa (European Community) di Maatstricht,
Belanda pada bulan Februari 1992. Perjanjian Maatstricht membuka lembaran baru
dalam tahap integrasi Eropa dengan didirikannya Uni Eropa (European Union/EU). Komunitas Eropa yang selama ini hanya
menitikberatkan integrasi ekonomi juga membahas dan menyepakati kerjasama dalam
bidang sosial dan politik. Oleh karena itu, Perjanjian Maatstricht secara resmi
disebut Perjanjian Uni Eropa (Treaty on
European Union/TEU).
Dalam hal persatuan
ekonomi dan kebijakan moneter, pada perjanjian inilah juga pertama kalinya
disepakati pengadopsian mata uang tunggal euro dan pendirian Bank Sentral Eropa
(European Central Bank/ECB) paling
lambat 1 Januari 1999 sebagai tahap ketiga dan tahap akhir dari Persatuan
Ekonomi dan Moneter Eropa (Economic and
Monetary Union/EMU) serta penciptaan pasar tunggal Eropa yang menjamin
pergerakan bebas dari manusia, modal, barang dan jasa.
Negara2 yang ingin
bergabung dalam penggunaan euro sebelumnya harus memenuhi kriteria2 yang
disebut Kriteria Maatstricht atau juga dikenal dengan Kriteria Konvergensi (Convergence Criteria). Empat kriteria tersebut adalah mengenai
pengendalian inflasi, pendanaan publik, stabilitas kurs dan konvergensi dari
suku bunga. Rinciannya sebagai berikut:
1. Inflasi:
Maksimal 1.5 % lebih tinggi dari rata2 inflasi tiga negara Uni Eropa yang memiliki inflasi terendah.
Maksimal 1.5 % lebih tinggi dari rata2 inflasi tiga negara Uni Eropa yang memiliki inflasi terendah.
2. Pendanaan Publik:
Defisit anggaran: Rasio
defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap Produk Domestik
Brutto (Gross Domestic Product/GDP)
tidak boleh melebihi 3% pada akhir tahun fiskal yang sebelumnya.
Hutang Publik: Rasio
hutang publik terhadap GDP tidak
boleh melebihi 60% pada akhir tahun fiskal sebelumnya.
3. Nilai Tukar Mata Uang
Negara2 pelamar sudah
harus bergabung dengan Mekanisme Kurs (Exchange
–Rate Mechanism/ERM) II dari
Sistim Moneter Eropa (European Monetary
System/EMS) selama 2 tahun berturut-turut dan tidak pernah mendevaluasi
mata uangnya selama periode itu.
4. Suku bunga
Suku bunga nominal
jangka panjang tidak boleh melebihi 2% diatas rata2 suku bunga dari tiga negara
anggota zona dengan inflasi terendah.
Tujuan dari pembuatan
kriteria ini adalah untuk mempertahankan stabilitas harga di Zona Euro,
meskipun dengan bergabungnya negara2 anggota baru.
Euro digunakan pertama
kali pada tgl l 1Januari 1999 sebagai mata uang perhitungan akuntansi
menggantikan European Currency Unit (ECU)
dengan rasio 1:1. Sedangkan penggunaan uang kertas dan logam euro sebagai mata
uang tunggal Zona Euro baru sejak tanggal 1 Januari 2002.
Bank
Sentral Eropa (European Central Bank/ECB)
Dari sisi moneter,
upaya untuk mengawasi dan mengkoordinir kebijakan moneter negara2 anggota
adalah dengan menciptakan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang beranggotakan dan sahamnnya
dimiliki oleh 27 bank2 sentral negara2 anggota Uni Eropa (European Union/EU). Mayoritas saham, sekitar 70%, dimiliki oleh 17
bank2 sentral negara2 anggota zona, sisanya dimiliki oleh bank2 sentral negara2
anggota Uni Eropa diluar zona. ECB
didirikan pada bulan Juni 1998 dan berdomisli di Frankfurt, Jerman.
Dengan penggunaan euro
sebagai mata uang tunggal, bank2 sentral negara2 anggota Zona Euro menyerahkan
kedaulatan (souvereignity) kepada ECB. Mereka yang sebelumnya bebas untuk
untuk mencetak atau menarik uang negaranya masing2 atau, dalam istilah
ekonominya, membuat kebijakan moneter ekspansif (uang longgar) atau restriktif
(uang ketat), harus menyerahkan kekuasaannya kepada ECB.
Tidak dapat dipungkiri,
bahwa pengaruh Jerman sangat kuat dalam penciptaan ECB, kalau tidak dapat dikatakan bahwa ECB diciptakan menurut model Bank Sentral Jerman, Die Deutsche
Bundesbank. Hal ini disebabkan Jerman merupakan ekonomi terkuat di zona dan
sebagai pemegang saham terbesar di ECB.
Pada posisi per 1 Januari 2011, dari sekitar 5,2 milyar euro modal disetor ECB, Jerman berkontribusi sekitar 1,4
milyar euro. Jauh melebihi negara2 anggota zona lainnya dan melebihi
kesepakatan kontribusi awal yang alokasinya berdasarkan perhitungan populasi
dan GDP negara2 anggota EU yang bagi Jerman seharusnya hanya
18.9% atau tidak melebihi 1 milyar euro.
Pengaruh dari die Bundesbank terlihat dari tujuan
utama ECB yang seperti halnya tujuan
utama Die Bundesbank yang secara
konstitusional diatur melalui Undang2 mengenai Bank Sentral Jerman (Die Gesetze ueber die Deutschen Bundesbank),
yaitu menjaga stabilitas harga (price
stability) dengan cara menekan inflasi tahunan dibawah 2%. Dalam
merealisasikan tujuan utamanya ini, die
Bundesbank tidak boleh diintervensi oleh pihak manapun, termasuk oleh
pemerintahan yang berkuasa.
Tujuan2 lainnya dari ECB seperti halnya mengupayakan tingkat
pengangguran yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang layak hanyalah
subordinasi dari tujuan utamanya, dalam pengertian, hanya boleh dilaksanakan
jika tidak menghalangi realisasi dari tujuan utamanya. Ini berbeda dengan
kebanyakan undang2 bank sentral negara2 lainnya atau Bank Sentral Amerika
Serikat (The Federal Reserve Bank/The Fed)
yang menempatkan tujuan menjaga stabilitas harga setingkat dengan tujuan2 lainnya
seperti tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang layak.
Independensi ECB seperti hal Die Bundesbank dalam merealisasikan tujuan utamanya menjaga stabilitas harga dalam pandangan negara Jerman sangat penting. Hal ini untuk menjaga agar bank sentral tidak diintervensi oleh pemerintahan yang sedang berkuasa seperti yang sering terjadi di negara2 lan. Agar terpilih kembali, mereka membuat program2 populer dengan pendanaan melalui penerbitan surat hutang negara dan memaksa bank sentral untuk membelinya. Pembelian surat hutang negara ini oleh bank sentral yang sering dilakukan dengan skala besar, meningkatkan jumlah uang beredar dan dengan sendirinya permintaan akan barang dan jasa dalam waktu relatif singkat, melebihi kapasitas produksi dan memicu inflasi.
Independensi ECB seperti hal Die Bundesbank dalam merealisasikan tujuan utamanya menjaga stabilitas harga dalam pandangan negara Jerman sangat penting. Hal ini untuk menjaga agar bank sentral tidak diintervensi oleh pemerintahan yang sedang berkuasa seperti yang sering terjadi di negara2 lan. Agar terpilih kembali, mereka membuat program2 populer dengan pendanaan melalui penerbitan surat hutang negara dan memaksa bank sentral untuk membelinya. Pembelian surat hutang negara ini oleh bank sentral yang sering dilakukan dengan skala besar, meningkatkan jumlah uang beredar dan dengan sendirinya permintaan akan barang dan jasa dalam waktu relatif singkat, melebihi kapasitas produksi dan memicu inflasi.
Tidak heran, jika ide
pembelian surat hutang negara2 zona yang bermasalah dengan skala besar
ditentang keras oleh Juergen Stark, seorang petinggi dan pembuat kebijakan ECB yang mewakili Jerman dan berakhir
dengan pengunduran dirinya pada bulan September 2011. Demikian juga dengan
penerbitan Eurobonds, yang terutama
tanpa disiplin anggaran dari negara2 bermasalah, sangat ditentang oleh Kanselir
Jerman, Angela Merkel dan Presiden dari Die Bundesbank, Jens Weidmann, karena
akan menghalangi ECB dalam
melaksanakan tujuan utamanya dan merongrong independensinya.
Seperti yang terjadi
saat ini, rasio hutang publik negara2 debitur terhadap GDP mereka sangat tinggi. Menurut data yang diumumkan oleh Eurostat, agensi data dari Uni Eropa, per
Oktober tahun 2012 rasio hutang Yunani ke GDP
mencapai 170%, Portugal 120%, Irlandia 117% dan Spanyol 90%. Jauh melebihi
kesepakatan awal di Maatstricht.
Epilog
Mendukung penerbitan Eurobonds untuk menolong negara2 yang terbelit hutang berarti turut menjaminnya. Tentu saja hal ini enggan dilakukan oleh Jerman tanpa kejelasan sumber pembayaran hutang dan tanpa perbaikan ekonomi negara2 debitur. Hal ini juga buruk untuk edukasi kedisiplinan anggaran dari negara2 tersebut. Oleh karena itulah Jerman bersikeras untuk memaksa mereka menyetujui dan melaksanakan program penghematan anggaran lebih dahulu.
Mendukung penerbitan Eurobonds untuk menolong negara2 yang terbelit hutang berarti turut menjaminnya. Tentu saja hal ini enggan dilakukan oleh Jerman tanpa kejelasan sumber pembayaran hutang dan tanpa perbaikan ekonomi negara2 debitur. Hal ini juga buruk untuk edukasi kedisiplinan anggaran dari negara2 tersebut. Oleh karena itulah Jerman bersikeras untuk memaksa mereka menyetujui dan melaksanakan program penghematan anggaran lebih dahulu.
Kedepannya, untuk jangka
panjang, Zona Euro akan berusaha membangun integritas fiskal dengan sebuah
institusi tunggal untuk mengawasi kebijakan fiskal negara2 zona. Dan tentu
saja, seperti halnya ECB , Jerman
akan bersikeras agar institusi ini diciptakan menurut model negaranya, yang
terkenal dengan disiplin anggarannya yang berimbang.
(Tulisan ini merupakan pendapat pribadi)
Posting terkait:
Jerman dan Euro: Kilas Balik dan Perspektif (1)
Adolf M dan Short Selling
(Tulisan ini merupakan pendapat pribadi)
Posting terkait:
Jerman dan Euro: Kilas Balik dan Perspektif (1)
Adolf M dan Short Selling
