Jakarta, 8 September 2013
“Apa yang tidak dapat
kita kuantifikasi tidak dapat kita ukur. Sesuatu yang tidak dapat kita ukur
tidak dapat kita kelola dan perbaiki.”
Kutipan diatas
menekankan pentingnya keberadaan indikator2 yang dapat membantu sebuah
organisasi, baik swasta maupun pemerintah, baik yang berorientasi ke laba (profit-oriented) maupun yang tidak (non-profit-oriented)
untuk mengukur pencapaian atau kinerja organisasinya berkaitan dengan sasaran2
strategisnya.
Ketika sebuah organisasi
telah membangun visi dan misinya, mendefinisikan seluruh pemangku2 jabatannya (stakeholders) serta menyusun rencana dan
menetapkan sasaran2 strategisnya, mereka harus menemukan cara untuk mengukur
pencapaian atau kinerja mereka berkaitan dengan sasaran2 strategis tersebut.
Indikator2 Kinerja Kunci atau Key
Performance Indicators (KPIs) sesuai dengan sebutannya, adalah
alat ukurnya.
Key
Performance Indicator adalah sistim pengukuran (metrics) yang dapat dikuantifikasi (quantifiable). Setiap organisasi mempunyai
KPInya masing2 yang secara umum
mungkin serupa tapi tidak secara spesifik. KPI
apapun yang dipilih, mereka harus mencerminkan sasaran organisasi dan quantifiable, sehingga pencapaian
sasaran dapat diukur.
KPI Keuangan
( financial
KPI)
Sebagai
ilustrasi, sasaran tertinggi dari perspektif keuangan (top-rank goal) sebuah perusahaan profit-oriented adalah upaya memaksimalkan nilai perusahaan untuk para pemegang saham ( maximizing shareholder value). Ini masih
terdengar samar dan konseptual tanpa suatu indikator yang jelas dan terukur.
Maximizing
shareholder value dapat berupa upaya
memaksimalkan perolehan laba suatu perusahaan dan/atau harga sahamnya.
Sebagai ukuran, ada beberapa KPI keuangan (financial KPI) yang
mempermudah pengukuran pencapaian
sasaran ini. Salah satunya yang paling praktikal adalah rasio keuangan (financial ratio) Return on Equity (RoE)
atau Imbal Hasil Ekuitas. RoE
mengukur effektivitas dari modal investor yang ditanamkan disebuah perusahaan yang
profit-oriented dalam mencetak laba.
RoE
didefinisikan sebagai perbandingan laba bersih (net profit atau net income)
dalam satu periode (lazimnya satu tahun) dan ekuitas atau modal perusahaan
dalam persentase. Laba bersih yang dimaksud disini adalah laba setelah pajak (after-tax
profit). RoE 30% per tahun artinya
perusahaan mampu mencetak laba bersih 30% per tahun dari seluruh modal yang
diinvestasikan. RoE yang tinggi
memberitahukan investor bahwa perusahaan memiliki kemampuan mencetak laba yang
tinggi dari modal yang ditanamkan sedang RoE
yang rendah adalah kebalikannya.
Untuk
perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal, RoE suatu perusahaan yang relatif tinggi
dan konsisten dari tahun ke tahun adalah salah satu faktor pertimbangan
investor dalam membeli saham tsb. Sehingga dengan cara ini RoE yang tinggi meningkatkan permintaan akan saham, dus, harganya. Dengan
catatan, laba usaha sangat mendominasi asal usul net profit sehingga investor mengetahui bahwa tingginya RoE berasal dari kegiatan usaha
perusahaan.
RoE
hanya salah satu contoh financial KPI
yang mencerminkan sasaran utama. RoE
yang tinggi dapat ditempuh dengan berbagai cara, misalnya dengan meningkatkan
pendapatan (revenue) dan/atau laba
usaha (operating profit), dan/atau
margin laba (profit margin), dan/atau
mengurangi beban usaha (operating cost)
dst. Ini semua dapat juga menjadi KPI
keuangan karena berhubungan dengan sasaran utama keuangan.
Tentu
saja diperlukan juga penilaian yang berimbang dalam pengukuran pencapaian sasaran
keuangan dengan menyertakan juga perkiraan risiko keuangan. Dalam hal ini,
rasio2 hutang dapat menjadi KPIs tambahan.
KPI Non-Keuangan (Non-financial KPI)
Selain
dari itu, diperlukan juga perspektif berimbang lainnya, selain keuangan. Dari
perspektif pelanggan, sasaran dapat berupa upaya memaksimalkan kepuasan pelanggan
(maximixing customer satisaction/value) dan pencarian KPIs untuk pengukurannya. Sebab sasaran non- keuangan dapat menjadi
sasaran antara alias sasaran tingkat kedua atau ketiga dalam hirarki sasaran (goals hierarchy) yang pencapaiannya
dapat sejalan dan sebangun (goals
congruency) dengan sasaran utama serta menentukan kinerja dan kelangsungan
perusahaan di masa depan.
Admin
Posting terkait:
Maximizing Shareholder Or Stakeholder Value?
Admin
Posting terkait:
Maximizing Shareholder Or Stakeholder Value?
