Sudah satu setengah dekade
berlalu semenjak Kaplan dan Norton mempublikasikan bukunya yang
berjudul The Balanced
Scorecard:Translating Strategy into Action (Robert S. Kaplan & David P. Norton,
Harvard Business School Press, 1996). Ide dasar buku ini berasal dari hasil
studi multi perusahaan selama setahun yang disponsori oleh Nolan Norton Institute, bagian riset dari firma konsultan KPMG.
Buku ini merupakan kritik dan berikut juga rekomendasi untuk merubah pengukuran kinerja perusahaan yang sebelumnya hanya dilihat dari perspektif keuangan. Pengukuran kinerja tradisional yang berdasarkan akuntansi keuangan yang dirangkum dalam laporan keuangan kuartalan dan tahunan perusahaan tidak menyertakan penilaian aset2 tidak berwujud (intangible) dan aset2 intelektual perusahaan seperti produk dan jasa yang berkualitas, karyawan yang trampil dan bermotivasi, proses bisnis internal perusahaan yang responsif dan efisien serta pelanggan yang puas dan setia. Padahal, aset2 ini merefleksikan kemampuan perusahaan yang menentukan keberhasilannya di masa depan.
Buku ini merupakan kritik dan berikut juga rekomendasi untuk merubah pengukuran kinerja perusahaan yang sebelumnya hanya dilihat dari perspektif keuangan. Pengukuran kinerja tradisional yang berdasarkan akuntansi keuangan yang dirangkum dalam laporan keuangan kuartalan dan tahunan perusahaan tidak menyertakan penilaian aset2 tidak berwujud (intangible) dan aset2 intelektual perusahaan seperti produk dan jasa yang berkualitas, karyawan yang trampil dan bermotivasi, proses bisnis internal perusahaan yang responsif dan efisien serta pelanggan yang puas dan setia. Padahal, aset2 ini merefleksikan kemampuan perusahaan yang menentukan keberhasilannya di masa depan.
Laporan keuangan juga hanya
berfungsi sebagai indikator yang tertinggal (lagging indicators),
sebab hanya mengukur kinerja masa lalu. Tetapi tidak menyertakan atau
mengidentifikasi pemacu2 kinerja (performance
drivers) terutama yang bersifat non-keuangan dan akan berdampak pada
kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Performance
drivers inilah yang berfungsi sebagai indikator pendahulu (leading indicators), karena memberikan informasi mengenai kinerja
masa depan. Diakui, bahwa informasi masa lalu adalah indikator yang berguna
bagi kinerja masa depan, tetapi pemegang saham juga membutuhkan informasi dini
mengenai sebaik apa perusahaan menciptakan nilai untuk masa depan.
Fokus hanya pada perspektif
keuangan dapat menyebabkan manajemen berorientasi jangka pendek dan menyebabkan
investasi yang berlebihan (overinvest) pada
penciptaan nilai jangka pendek, tetapi kurang berinvestasi (underinvest) untuk penciptaan nilai
jangka panjang. Ini mengingat kinerja keuangan biasanya dilaporkan secara
kuartalan pada pemegang saham.
Karena alasan2 tersebut
diatas, pengukuran kinerja perusahaan seharusnya juga diimbangi dengan melihat
dari tiga perspektif lainnya, yaitu: perspektif pelanggan, perspektif proses internal
serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Pengukuran kinerja yang baru
ini disebut Kaplan dan Norton sebagai Kartu Skor Berimbang (Balanced Scorecard/BSC).
Nama ini merefleksikan keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan panjang, antara pengukuran keuangan dan non-keuangan, antara indikator yang tertinggal (lagging) dan yang mendahului (leading) serta antara perspektif kinerja internal dan external perusahaan. Empat perspektif tersebut diatas (keuangan, pelanggan, internal serta pembelajaran dan pertumbuhan), seperti yang dikatakan penulis, bukanlah harga mati. Mereka dapat disesuaikan tergantung lingkungan industri dan strategi perusahaan.
Nama ini merefleksikan keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan panjang, antara pengukuran keuangan dan non-keuangan, antara indikator yang tertinggal (lagging) dan yang mendahului (leading) serta antara perspektif kinerja internal dan external perusahaan. Empat perspektif tersebut diatas (keuangan, pelanggan, internal serta pembelajaran dan pertumbuhan), seperti yang dikatakan penulis, bukanlah harga mati. Mereka dapat disesuaikan tergantung lingkungan industri dan strategi perusahaan.
Pada akhirnya, semua kinerja
yang dicapai dari perspektif2 non-keuangan harus terukur dilihat dari
perspektif keuangan. Dengan kata lain, bermuara pada kinerja keuangan. Ini
menegaskan peran ganda (dual role)
dari tujuan dan pengukuran keuangan: mendefinisikan kinerja keuangan dari
strategi perusahaan dan berfungsi sebagi sasaran akhir dari perspektif2
non-keuangan lainnya.
Dengan demikian, BSC tidak
mengeliminasi peranan pengukuran kinerja keuangan dalam sistim manajemen
perusahaan, tetapi menyertakan pengukuran kinerja keuangan dalam sistem
manajemen yang lebih berimbang (balanced): yang menghubungkan kinerja operasional jangka
pendek dengan tujuan2 strategis jangka panjang.
Admin
Admin
