Total Pageviews

Wednesday, 21 November 2012

Jerman dan Euro: Retros- dan Perspektif (1)


Jakarta, 21 November 2012 
Sebuah mata uang tunggal yang mempersatukan dan mendorong pertumbuhan ekonomi dari negara2 anggota yang bergabung didalamnnya, adalah ekspektasi utama yang diharapkan dari Euro.
Sebuah mata uang tunggal terutama akan menghilangkan risiko fluktuasi kurs (foreign-exchange risks) dan biaya transaksi penukaran (foreign-exchange transaction fees) mata uang, membuat perhitungan, perbandingan biaya dan harga serta pembukuan perdagangan luar negeri antara negara2 anggota menjadi jauh lebih mudah dan effisien. Dus, mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Lebih dari itu, dia juga akan meningkatkan kerjasama dan solidaritas antara negara2 anggota. Baik secara ekonomi, sosial maupun poltik. Namun, dalam realisasinya seiring perjalanan waktu, hal ini bukan tanpa masalah.Krisis zona Euro yang ber-larut2 melanda ekonomi  negara2 anggota dan dampaknya yang  signifikan pada ekonomi global, membuat para investor pasar modal ragu mengambil posisi jangka panjang dan para spekulan (traders) memperpendek jangka waktu transaksi jual beli dan bersedia memperkecil margin keuntungan maupun kerugian mereka.
Investor legendaris Warren Buffet dan spekulan mata uang fenomenal George Soros turut memberikan komentarnya mengenai kelanjutan eksistensi Zona Euro dan kebijakan yang harus diambil.    
Dalam  wawancaranya dengan beberapa media keuangan  internasional (antara lain CNBC dan Bloomberg) pada November tahun lalu, Buffet mengatakan bahwa Zona Euro dengan rancangannya pada saat ini adalah sebuah sistim mata uang tunggal yang cacat secara fundamental dan ditakdirkan untuk gagal. Negara2 yang trergabung didalamnya mempunyai mata uang dan tingkat suku bunga yang sama tetapi tidak sistim pajak dan budaya yang sama.
Soros lebih menyoroti peranan Jerman atas berdirinya Zona Euro dan krisis yang terjadi. Dia mengritik tetapi juga sekaligus mengharapkan kepemimpinan Jerman untuk mengatasi krisis dan keberlanjutan eksistensi Zona Euro. Menurut dia, Jerman harus memberikan komitmen yang lebih besar untuk tidak hanya menyelamatkan kepentingannya sendiri tetapi juga kepentingan negara2 debitur (Yunani, Irlandia Portugal, Spanyol dan Itali). Dalam konteks ini, Jerman harus berperan sebagai pemimpin zona dan mendukung rencana penerbitan surat hutang negara (euro bonds) yang dijamin bersama melalui Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) sebagai pengganti surat hutang negara saat ini yang hanya dijamin oleh negara yang bersangkutan. Ini adalah cara untuk berbagi risiko untuk seluruh negara2 zona Euro. Jika tidak, Jerman sebaiknya meninggalkan zona Euro (Reuters/The Huffington Post/Der Spiegel).
Mungkin menarik mengulas komentar dan pendapat kedua tokoh pasar keuangan ini serta membandingkannya dengan kesepakatan awal Zona Euro dan realisasinya sampai saat ini serta membahas peranan dan posisi Jerman, sebagai negara dengan ekonomi terkuat di zona.
 

 ...To be continued 

No comments: