Total Pageviews

Saturday, 9 June 2012

Mitos #3: Pasar Saham Dapat Diprediksi

Jakarta, 10 Juni 2012
Memprediksi pasar saham, baik pasar secara keseluruhan (indeks) maupun pasar untuk saham2 tertentu, adalah aktivitas harian yang sering dilakukan oleh para traders, brokers dan analis tehnikal saham dengan tujuan untuk mendulang keuntungan dari fluktuasi harga saham dalam jangka waktu yang relatif sangat pendek: Dari mingguan sampai harian, dari harian sampai hitungan jam, menit bahkan detik!

Pola pikir jangka pendek para pelaku pasar di atas sebenarnya juga tidak terlepas dari sumber pendanaan mereka yang tidak selalu menggunakan dana yang menganggur (idle fund/capital) alias uang yang dapat tidak digunakan untuk jangka yang relatif panjang, paling tidak dalam hitungan tahun. 
Selain dari itu, tuntutan kerja para pialang2 (brokers/profesional traders) juga mengharapkan nasabah  mereka bertransaksi sesering mungkin dengan volume yang sebanyak mungkin dan dalam jangka waktu sesingkat mungkin. Sehingga mereka dapat memberikan keuntungan dan menutup biaya sekuritas tempat mereka bekerja dari biaya transaksi jual beli saham (transaction fee) yang dikutip dari para nasabah. 
Hipotesis Effisiensi Pasar 
Seperti layaknya harga barang dan jasa di pasar riil, harga saham perusahaan tertentu yang melantai di bursa saham juga tergantung dari penawaran dan permintaan akan saham tersebut di pasar modal. Harga pasar dari saham2  inilah yang kemudian membentuk indeks pasar modal secara keseluruhan. Karena itulah fokus analisa para pelaku pasar yang disebut di atas adalah pada penawaran dan permintaan (supply and demand) akan saham2.

Para pelaku pasar yang mencoba memprediksi pasar, sedikit  banyak, secara sadar atau tidak sadar, sebenarnya sudah membiarkan dirinya dipengaruhi oleh teori pasar keuangan yang disebut Hipotesis Effisiensi Pasar (Efficient Market Hypotesis/EMH). Dalam versinya yang radikal (strong form), menurut teori ini, harga saham di pasar saham sudah mencerminkan nilai alias valuasi wajarnya (fair value). Oleh karena itu, daripada bersusah payah menghitung nilai (valuasi)  saham yang sebenarnya, mereka lebih suka memprediksi harga pasar dari saham2 dengan tujuan tersebut diatas. 

Padahal, seandainya EMH berlaku, segala bentuk prediksi pasar yang berdasarkan pergerakan harga masa lalu tidak begitu relevan lagi. Sebab,  harga pasar masa kini merefleksikan semua informasi dan mengantisipasi ekspektasi pelaku2 pasar. Dalam hal ini, yang paling terpukul adalah analis2 teknikal.
Bias Pasar

Benarkah pasar saham dan harga pasar sebuah saham dapat diprediksi?
Begitu banyak dan cepatnya faktor2 ekonomi, sosial dan politik yang mempengaruhi sentimen2 para pelaku  pasar, terutama di era internet ini, ditambah  oleh faktor2 piskologis yang didasari oleh kekurangan pengetahuan penyebab keserakahan dan ketakutan yang berlebihan, memicu apa yang disebut eforia pasar (market euphoria) alias pembelian besar2an dan kebalikannya, yaitu panic selling  alias penjualan besar2an. Kemudian, yang juga harus diperhitungkan lagi, adalah upaya2 memanipulasi harga pasar melalui permintaan dan penawaran dipasar dari pemodal2 besar. Kumpulan faktor2 inilah yang menyebabkan bias pasar  yang sangat kuat, sehingga mustahil memprediksi harga pasar secara konsisten. Baik hanya arahnya saja alias naik atau turun, secara semi-akurat alias hanya rentang harga/indeks yang tipis, apalagi secara akurat. 
Admin

No comments: