Total Pageviews

Thursday, 15 March 2012

Mitos #2: Pasar Saham adalah Klub Eksklusif



Sir Isaac Newton
Jakarta, 15 Maret 2012
Mereka yang beranggapan bahwa investasi saham  hanya untuk (eksklusif) kelompok (klub) orang2 yang berintelegensia dan berpendidikan tinggi, kiranya harus menepis anggapan tersebut dari pengalaman kegagalan klub orang2 ini. Berikut ini adalah dua kasus nyata dan ekstrim dari sejarah pasar keuangan dan modal yang menyangkal mitos ini.


Newton dan saham SSC                                                                                                           
Siapa yang meragukan intelegensia dan pendidikan dari Sir Isaac Newton (1643-1727) si penemu teori gravitasi bumi?
Pada musim semi tahun 1720 Newton menjual semua saham South Sea Company (SSC) yang dimilikinya dan mendulang laba 100% atau totalnya 7.000 ponsterling Inggris Raya (Great British Pound/GBP). Jumlah yang sangat besar bagi orang awam saat itu. Sebab jika dihitung dengan nilai sekarang, nilainya lebih dari 1 juta GBP. Beberapa bulan kemudian, dia membeli lagi pada harga yang jauh lebih tinggi tetapi menjualnya lagi selang beberapa bulan kemudian dan merugi sekitar 20.000 GBP atau sekitar 3 juta GBP dengan nilai sekarang.
South Sea Company adalah perusahaan dagang yang sahamnya melantai di Bursa London dan merupakan salah satu dari saham2 yang terpopular di Inggris Raya pada waktu itu. Desas desus mengenai potensi perdagangannya di Dunia Baru (Benua Amerika) mengakibatkan spekulasi pembelian besar2an dari saham ini dan menyebabkan harganya melonjak dari 128 GBP di bulan Januari 1720, menjadi 330 GBP di bulan Maret, lalu 890 GBP di bulan Juni dan akhirnya mencapai 1.000 GBP di awal Agustus sebelum berbalik turun hingga 150 GBP di akhir September dan menjadi 100 GBP di akhir tahun yang sama.
Kekalahan fatalnya membuat Newton frustrasi dan menjauhi pasar modal. Sampai akhir hayatnya dia tidak ingin lagi mendengar orang menyebut saham SSC didepannya. Dari mulutnya terlontar kata2 yang sering dikutip orang mengenai saham  dan pasar modal: ”Saya dapat menghitung ulang pergerakan bintang2, tapi tidak (dapat menghitung ulang) kegilaan manusia.”
Pemenang Nobel dan LTCM
Kasus ini adalah contoh yang ironis dari kegagalan orang2 yang secara akademis meraih prestasi tertinggi di bidang keahliannya yang sangat berkaitan dengan pasar keuangan dan modal. Bagaimana mungkin 2 orang profesor pemenang hadiah Nobel di bidang ekonomi gagal dalam mengelola dana institusi2 dan investor2 individual kaya yang mempercayai mereka?
Myron Scholes
Robert Merton
Myron Scholes dan Robert Merton adalah anggota dewan direksi dari perusahaan investasi keuangan Long-Term Capital Management (LTCM). Scholes adalah PhD dari Universitas Chicago dan mengajar sebagai profesor di Universitas Stanford. Sedangkan Merton adalah Phd di bidang keuangan dari Institut Tehnologi Massachuset (Massachuset Institute of Technology/MIT) dan mengajar sebagai profesor di Universitas Harvard. Keduanya adalah pemenang hadiah Nobel di bidang ekonomi tahun 1997 untuk "sebuah methode baru menentukan nilai dari produk2 turunan (derivatives) instrumen2 investasi keuangan" dan mengklaim bahwa methode ini memiliki sistem pengaman 'anti rudal' ('rocketproof').
Kenyataan di lapangan berbicara lain. Pada tahun 1998 LTCM merugi 4,6 milyar dolar Amerika Serikat (United StatesDollar/USD) dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan akibat dampak dari krisis moneter Rusia yang melanda negara itu pada bulan Agustus dan September 1998 ketika pemerintah Rusia mengalami gagal bayar (default) atas obligasi2 mereka. Kerugian LTCM sampai membutuh kan intervensi dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve Bank/ The Fed). LTCM akhirnya dinyatakan bangkrut dan ditutup pada awal tahun 2000.
Sejatinya, investasi saham hanya membutuhkan matematika lulusan Sekolah Dasar dan logika manusia berintelegensia normal untuk dimengerti. Selebihnya adalah disiplin, baik dalam mempertahankan prinsip2 rasional maupun pengendalian emosi kita. Mengetahui kapan harus serakah, kapan harus takut dan kapan harus sabar menunggu. Atau dalam bahasa pelaku pasar modal: Kapan harus membeli, menjual dan menahan saham2 kita.  

No comments: