Total Pageviews

Tuesday, 16 December 2014

China 中 国 (Zhōngguó)

Jakarta, 16 Desember 2014 
Amerika Serikat abad ke 19...
Puluhan ribu imigran dari negeri Tiongkok datang kesana untuk mengadu nasib dengan bekerja di pertambangan emas dan pembangunan jalur kereta api. Banyak dari mereka tewas karena pekerjaan berbahaya meledakkan area tambang yang ingin dieksploitasi atau area jalur kereta api yang ingin dibangun. Seringkali, mereka hanya dibayar dengan setengah dari upah pekerja imigran Meksiko untuk pekerjaan yang sama. Disamping  itu, mereka juga tidak mendapat perlindungan dan perlakuan hukum yang sama dengan warga Amerika lainnya, terutama warga kulit putih. Bahkan boleh dikatakan sama sekali tidak.

You have a Chinaman’s chance. Anda hanya mempunyai peluang seorang Cina. Ungkapan ini merujuk pada prospek sosio-ekonomi seorang Cina. Terlahir sebagai seorang Cina berarti seseorang hampir atau sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk bertahan hidup, apalagi untuk berhasil dan/atau mempunyai status sosial yang layak. Ungkapan yang penuh penghinaan ini berasal dari potret kehidupan sosio-ekonomi para imigran Cina tersebut diatas: Bekerja keras untuk upah yang sangat rendah dan dengan taruhan nyawa! 

Cina masa kini, abad ke 21...
Dengan nilai nominal Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2013 sekitar 8.230 milyar dolar Amerika Serikat (AS)  tanpa Hongkong,  Cina menempatkan posisinya sebagai ekonomi kedua terbesar dunia setelah Amerika Serikat dengan PDB sekitar 16.245 milyar dolar AS ditahun yang sama. Data terakhir untuk PDB Cina pada pertengahan December 2014 mencapai  9.240 milyar dolar AS sedangkan Amerika Serikat 16.800 dolar AS (Worldbank; www.tradingeconomics.com).
Produk2 berikut investasi2 Cina tersebar diseluruh dunia: Dari pasar negara2 industri sampai negara2 berkembang di Amerika, Eropa, Asia, Australia bahkan sampai pasar2 negara terbelakang di benua   Afrika. Dengan kegiatan ekspornya , Cina membuat neraca perdagangannya melimpah. Pada bulan November 2014 ekspor bulanannya sebesar 212 milyar dolar AS, turun sedikit dari rekor 214 milyar dolar AS pada September 2014.  Sejak tahun 1995 Cina mencetak surplus  perdagangan secara konsisten. Dari tahun 2004 hingga 2009 surplus perdagangannya melonjak 10 kali lipat. Dan, untuk bulan November 2014 Cina mencetak rekor baru untuk surplus perdagangan bulanan sebesar  54,5 milyar dolar AS (www.tradingeconomics.com).
Surplus perdagangannya yang terus menerus membuat  Cina menimbun cadangan devisa dengan nilai yang luar biasa:  Per September 2014 cadangan devisanya mencapai 3.887.700 milyar (atau sekitar 3,88 triliun) dolar AS,  turun sedikit dari rekornya di 3.968.825 milyar (3,969 triliun) dolar AS pada bulan sebelumnya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya sekitar  111 milyar dolar AS per November 2014 dan yang hanya mencapai rekor tertinggi sekitar 125 milyar dolar AS pada Agustus 2014 (www.tradingeconomics.com)
Reformasi ekonomi yang dimulai dan dipimpin Deng Xiaoping 邓 小 平 pada tahun 1978 dengan tahap pertama berupa dekolektivisasi  sektor agraria, perizinan untuk investasi asing dan pengusaha untuk memulai bisnis, yang kemudian dilanjutkan denggan tahap kedua diakhir dekade 1980 sampai 1990 berupa privatisasi  lebih luas dari sektor2 dan industri2 yang selama ini dimonopoli negara, penghapusan kontrol harga dan kebijakan  proteksionis, membuat sektor swasta  tumbuh pesat mencapai 70% dari GDP Cina pada tahun 2005. Dari tahun 1978 sampai 2013 ekonomi Cina rata2 tumbuh 9.5% per tahun. Pada tahun 2010 Cina melampaui ekonomi Jepang sebagai ekonomi terbesar di Asia dan menjadi ekonomi terbesar kedua didunia setelah Amerika Serikat. Diproyeksikan,  ekonomi Cina akan menjadi yang terbesar didunia pada tahun 2025.
Dua abad setelahnya, ungkapan   you have a Chinaman’s chance yang tadinya merupakan penghinaan, dijawab Cina menjadi sesuatu yang membanggakan. Memutarbalikkannya menjadi sebuah harapan, sebuah kesempatan untuk menjadi yang terbaik dan memimpin dunia.
Proyeksi ekonomi terbesar pada tahun 2025 bukanlah hanya sekedar slogan2 dan/atau kredo2 bombastis yang kosong, mengingat potensi daya saing dan semangat kewirausahaan yang difasilitasi dan diayomi oleh negarawan2nya. Ini ditunjukkan dengan pembangunan2 infrastruktur yang luar biasa pesat dan penegakkan hukum yang lumayan baik. Tentu saja terlalu dini dan tidak berimbang untuk menyamakan dan menilainya dengan standar demokrasi negara2 industri di Amerika Utara dan Eropa Barat.
Rakyat dan pemerintah Cina tidaklah naif untuk menjadikan negara mereka dengan jumlah penduduk yang relatif besar ( sekitar 1,35 milyar jiwa) hanya untuk menjadi pasar dari produk2 negara asing, terutama dari negara2 industri. Berbagai produk2 lokal dengan skala dunia yang merupakan tandingan produk2 negara industri lainnya juga diciptakan oleh pebisnis2 lokal yang kreatif, yang pada mulanya ditujukan  untuk memanfaatkan huruf kanji dan rasa nasionalisme rakyat Cina. Tetapi kemudian juga mendunia.


Sebut saja Alibaba 阿里巴, Tencent , Dalian Wanda 连万  dengan jumlah transaksi yang melampaui Amazon nya Amerika Serikat dibidang e-commerce; Xiaomi , Oppo , Huawei di industri ponsel pintar (smartphone); Lenovo 联想集 di industri komputer; Baidu atau tandingan Google di Cina di bidang mesin pencari (search engine) dan industri video games; Renren atau tandingan Facebook, Weibo yang merupakan microblogging nya Cina dibidang media sosial; WeChat (Wēixìn) tandingan WhatsApp dibidang pesan instan (instant messenger); Sany dibidang industri alat berat; Geely , Chery dibidang otomotif dan masih banyak lagi lainnya yang merefleksikan budaya bersaing bangsa Cina dan menjawab tantangan global. Dampak positif dari produk2 teknologi Cina  juga mempersempit jurang teknologi antara golongan yang mampu dan kurang mampu. Karena produk2 mereka diciptakan dengan harga yang terjangkau tetapi dengan teknologi yang cukup canggih dan mutakhir untuk golongan menengah-bawah. 

Indonesia masa kini, abad ke 21...
Indonesia Hebat...,  Indonesia Macan Asia..., Indonesia Bisa...dst...dst...
Semua pakar motivasi akan setuju bahwa untuk maju, seseorang atau sebuah bangsa harus mempunyai kepercayaan diri. Sah2 saja meciptakan slogan2 dan/atau kredo2 yang bombastis. Tetapi, hanya berbekal slogan2 dan kredo2 saja tidak cukup. Apalagi jika “jauh panggang dari api” alias jauh kenyataan dari slogan.
Disebuah negara yang menganut ekonomi terbuka atau, paling tidak, “dipaksa” untuk membuka diri terutama dengan kesepakatan penerapan Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara/MEA (ASEAN Economic Community/AEC) tahun depan, kita harus  membandingkan diri kita dengan negara2 tetangga dan pesaing. Sejauh apa  daya saing kita dibanding mereka. Dan jika kita mencoba berlari kencang, bukan berarti mereka hanya akan tinggal diam. 
Infrastruktur yang ketinggalan, sumber daya manusia yang kurang berkualitas, penegakan hukum yang kurang serius itulah kenyataan yang diterima jika kita dibandingkan dengan negara tetangga terdekat, seperti Malaysia dengan latar belakang etnis, budaya dan bahasa yang hampir sama, atau dengan Singapura, yang boleh dikatakan secara geografis, masih berada “didalam” Indonesia. Perbandingan ini selalu dijawab secara klise oleh politisi2 indonesia yang tidak berkinerja dengan berkilah bahwa adalah tidak layak membandingkan Indonesia dengan negara2 tersebut diatas karena latar belakang sejarah, jumlah penduduk, budaya dan, entah apa lagi, yang berbeda. Lalu, apakah kita harus membandingkan negara ini dengan negara2 terbelakang di Afrika?
Hanya mengandalkan sumber daya alam atau geopolitis yang strategis tidaklah cukup. Tanpa infrastruktur yang memadai, sumber daya manusia yang juga mencakup negarawan2 yang andal, Indonesia hanya akan menjadi pasar, menjadi konsumen dan bukannya produsen dinegara sendiri. Belajarlah dari Cina, yang secara sumber daya alam dan geopolitis tidaklah kalah dengan Indonesia, tetapi berani menjawab tantangan negara2 industri dari Amerika Utara dan Eropa Barat dibidang teknologi, walau untuk segmen pasar yang berbeda, yakni menengah-bawah. 
Negarawan2 yang andal itulah faktor yang sangat langka untuk bangsa ini sekarang, bukan sekedar  politisi2  kaliber rendah yang hanya mampu berslogan dan berkredo-ria serta melakukan pembodohan rakyat berdasarkan isu2 Suku Agama dan RAs (SARA) dan juga nasionalisme semu. Jika saja Indonesia memiliki jenis negarawan2 ini, negara ini kelak akan memainkan peranan yang lebih berarti pada peta ekonomi dunia. Ungkapan you have a Chinaman’s chance dua abad yang lalu di Amerika Serikat dapat dihindari untuk berubah menjadi  you have an Indonesiaman’s chance!