Total Pageviews

Thursday, 20 February 2014

National Performance Review

Jakarta, 20 Februari 2014 
Pemilu legislatif sudah dekat. Jika tidak ada aral melintang, akan diadakan pada bulan April tahun 2014 ini. Partai2 politik pemenangnya akan membentuk pemerintahan Republik Indonesia untuk lima tahun kedepan. Para pemilih alias konstituen tentu ingin mengetahui seperti apa calon2 legislatif yang akan mereka pilih dan juga platform alias tujuan dan program2 politis mereka. Ketika mereka terpilih, boleh diasumsikan bahwa para konstituen setuju dengan platform para partai pemenang.

Birokrasi pemerintahan akan menjadi sumber daya manusia dan regulasi untuk merealisasikan platform partai2 pemenang yang menjadi pemerintah. Mereka adalah administrasi negara dan dibiayai oleh pemasukan negara, terutama yang bersumber dari pajak dan hasil penjualan produk serta jasa yang dikelola oleh negara. Untuk apa dan seberapa perlunya birokrasi sebuah negara adalah sebuah pertanyaan seberapa besarnya sebuah (birokrasi) pemerintah yang selayaknya, agar dapat secara optimal melayani rakyatnya. Optimal, dalam arti efektif dan efisien.
Pengertian efektif disini berarti sebuah pemerintah yang lebih fokus dan lebih berdampak (effective) pada kepuasan para “pelanggan” nya. “Pelanggan” yang mengkonsumsi barang dan jasa publik bukan lain adalah rakyat negara bersangkutan. Sedangkan pengertian efisien berarti lebih menghemat biaya pengadaan/produksi  barang dan jasa publik. Sebab harus diingat, birokrasi yang memproduksi/menyediakan barang dan jasa publik ini dibiayai oleh para pembayar pajak yang juga rakyat negara bersangkutan. Menghemat biaya berarti tidak meng-hambur2kan uang pajak rakyat.
Reinventing government. Menemukan ulang pemerintah. Sebuah inisiatif untuk mereformasi birokrasi pemerintah federal Amerika Serikat (AS) pada era pemerintahan Clinton – Al Gore (1993 – 2001). Tujuannya adalah membentuk birokrasi pemerintah federal yang lebih efektif dan efisien, atau dalam bahasa orisinilnya “to create a government that works better and costs less” .
Untuk mencapai tujuan ini, pada bulan Maret 1993 presiden Clinton membentuk sebuah gugus tugas (task force) antar instansi pemerintah federal yang disebut National Performance Review (NPR) atau Tinjauan Ulang Kinerja Nasional dan menunjuk wakilnya Al Gore sebagai pemimpin NPR. Presiden Clinton memberikan waktu 6 bulan untuk NPR melaporkan hasil dari tinjauannya.
NPR fokus pada masalah bagaimana pemerintah seharusnya bekerja, bukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Karena jika menyangkut yang terakhir, ini sudah seharusnya termaktub dan terlampir dalam platform partai2 pemenang ketika kampanye. Mereka mengukur kinerja birokrasi pemerintah dengan mengacu pada kinerja yang terbaik di bisnis alias sektor swasta.
Wapres Al Gore dan tim yang dipimpinnya mencari masukan dari seluruh rakyat AS. Dia berbicara dengan pegawai2 di setiap instansi2 utama pemerintah negara bagian  dan federal. Mengunjungi program2 pemerintah dan swasta yang sukses serta perusahaan2 yang berhasil mengimplementasikan praktek2 baru yang secara dramatis mengubah operasional mereka dan berakibat pada penurunan biaya serta kenaikan laba. Mereka belajar dari pemimpin2 lokal yang berhasil. Mendengarkan ahli2 yang terbaik dari dalam negeri, dari komunitas bisnis, akademis dan juga dari pemerintahan pada konferensi khusus yang diadakan di Philadelphia dan Nashville. Begitu juga menyimak telepon2 dan surat2 masuk yang berasal dari rakyat AS.
Hasil dar inisiatif NPR adalah budaya kerja yang mengutamakan kepuasan pelanggan serta budaya organisasi yang mengutamakan kinerja dan produktivitas pada instansi2 pemerintah federal. Disamping itu, penghematan pengeluaran negara ratusan milyar dollar untuk birokrasi selama pemerintahan Clinton – Al Gore. Pada awal tahun 1998, National Performance Review berganti nama menjadi National Partnership for Reinventing Government.
Berkaca pada AS, kiranya juga penting bagi pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membuat sebuah gugus tugas dan/atau lembaga independen  yang menilai kinerja birokrasi pemerintah baik dari perspektif pelanggan maupun dari keuangan negara dengan indikator2 yang jelas dan terukur serta membandingkannya dengan yang terbaik dari sektor swasta. Karena pada akhirnya, rakyat negara ini selaku pelanggan yang mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan oleh birokrasi pemerintah mendambakan kualitas yang memadai dan ingin tahu apakah harga yang mereka bayar adalah wajar/layak dan sudah mencerminkan pengadaan/produksi yang efisien. Dengan inisiatif reformasi seperti ini, kiranya setiap kebijakan publik pemerintah akan lebih mudah mendapat dukungan. 
Admin