Sebuah perdebatan
usang. Tetapi sekolah bisnis yang baik akan melakukan hal ini di semester2 awal
untuk memastikan bahwa calon2 eksekutif puncak korporasi yang sedang belajar
disana membahas singkat hal yang mendasar ini.
Maximizing
shareholders value secara umum berarti meningkatkan
kekayaan para pemegang saham melalui kenaikan
nilai perusahaan. Akademis, ini berarti memaksimalkan nilai masa kini (present value) dari arus kas bebas (free cash flow) perusahaan sepanjang waktu.
Investor awam, yang tak
mau dipusingkan dengan istilah maupun perhitungan keuangan dan akuntansi
beserta proyeksi dan asumsinya, hanya ingin tahu bahwa perusahaan memaksimalkan
laba sepanjang waktu sebagai acuan sederhana. Mereka berharap laba yang relatif
tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan kekayaan mereka melalui
pembagian dividen dan/atau kenaikan harga saham mereka.
Banyak kritik tajam yang dilontarkan pada salah satu tujuan utama korporasi ini. Maximizing shareholders value dianggap sebagai prilaku korporasi yang tidak etis, sebab hanya berkonsentrasi pada peningkatan kekayaan para pemegang saham, tetapi mengabaikan kepentingan pihak2 terkait alias pemangku2 kepentingan (stakeholders) lainnya seperti karyawan, pemasok dan pelanggan serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Karena itu, alih-alih maximizing shareholders value, korporasi dihimbau agar maximizing stakeholders value.
Banyak kritik tajam yang dilontarkan pada salah satu tujuan utama korporasi ini. Maximizing shareholders value dianggap sebagai prilaku korporasi yang tidak etis, sebab hanya berkonsentrasi pada peningkatan kekayaan para pemegang saham, tetapi mengabaikan kepentingan pihak2 terkait alias pemangku2 kepentingan (stakeholders) lainnya seperti karyawan, pemasok dan pelanggan serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Karena itu, alih-alih maximizing shareholders value, korporasi dihimbau agar maximizing stakeholders value.
Benturan
Kepentingan?
Sekilas himbauan ini
menemukan pembenarannya dan maximizing stakeholders
value terkesan lebih etis dari maximizing
shareholders value jika kita membayangkan terjadi benturan kepentingan
antara shareholders dan stakeholders lainnya. Tetapi ini
meragukan jika drenungkan lebih mendalam.
Sebuah perusahaan yang
mengabaikan kepuasan pelanggan sebagai salah satu stakeholdersnya dengan
menjual produk dibawah standar untuk menekan biaya dan demi
mengejar keuntungan maksimal akan kehilangan pelanggannya. Dengan pelanggan
yang beralih ke produk dari perusahaan lain, cepat atau lambat perusahaan
tersebut akan merugi dan bangkrut. Dengan cara ini, turut merugikan pemegang saham (sharehoders)
dan juga pemangku2 jabatan (stakehoders) lainnya seperti karyawan dan pemasok. Karena sebuah
perusahaan yang bangkrut bukan saja membuat para pemegang sahamnya merugi
tetapi juga membuat karyawannya kehilangan pekerjaan dan pemasoknya kehilangan
salah satu pelanggannya.
Sebuah perusahaan yang
membebani pelanggannya dengan harga yang terlalu tinggi untuk produk dan/atau
jasanya demi memaksimalkan laba akan tersingkir dari kompetisi. Sebaliknya,
membebankan harga yang terlalu rendah demi memuaskan pelanggan akan membuat
sebuah perusahaan sulit memperoleh laba dan akan mengalami kesulitan membayar
dividen untuk para pemegang saham, gaji karyawan serta kewajibannya pada
kreditur dan pemasok.
Demikian juga dengan
kepuasan karyawan sebagai salah satu stakehodersnya. Perusahaan yang demi tujuan memaksimalkan laba membayar
karyawannya dibawah standar dan/atau produktivitasnya akan ditinggalkan
karyawannya dan sulit mencari tenaga kerja yang berkualitas. Akibatnya
perusahaan tersebut sulit dikelola dan berkompetisi. Sebaliknya, perusahaan yang
terlalu memanjakan karyawannya -dengan gaji dan/atau imbalan yang yang jauh
diatas kemampuan dan produktivitas kerja karyawan tersebut- akan sulit
berkompetisi dan tersingkir dari bisnis.
Kesimpulan
Argumentasi yang serupa
juga dapat diterapkan untuk pemasok dan lingkungan disekitar perusahaan. Oleh
karena itu, perusahaan yang memaksimalkan nilai pemegang2 sahamnya (maximizing
shareholders value) sudah dan harus selalu mempertimbangkan dan
menyeimbangkan kepentingan antara shareholders
dan stakeholders. Absennya
benturan kepentingan disini membuat himbauan korporasi untuk maximizing stakehoders value alih-alih maximizing shareholders value terkesan
ber-lebih2an dan tidak perlu.
Admin
Admin
