Total Pageviews

Saturday, 12 October 2013

Maximizing Shareholders or Stakeholders Value?


Jakarta, 12 Oktober 2013 
Sebuah perdebatan usang. Tetapi sekolah bisnis yang baik akan melakukan hal ini di semester2 awal untuk memastikan bahwa calon2 eksekutif puncak korporasi yang sedang belajar disana membahas singkat hal yang mendasar ini.

Maximizing shareholders value secara umum berarti meningkatkan kekayaan para pemegang saham melalui kenaikan  nilai perusahaan. Akademis, ini berarti memaksimalkan nilai masa kini (present value) dari arus kas bebas (free cash flow) perusahaan sepanjang waktu.

Investor awam, yang tak mau dipusingkan dengan istilah maupun perhitungan keuangan dan akuntansi beserta proyeksi dan asumsinya, hanya ingin tahu bahwa perusahaan memaksimalkan laba sepanjang waktu sebagai acuan sederhana. Mereka berharap laba yang relatif tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan kekayaan mereka melalui pembagian dividen dan/atau kenaikan harga saham mereka.

Banyak kritik tajam yang dilontarkan pada salah satu tujuan utama korporasi ini. Maximizing shareholders value dianggap sebagai prilaku korporasi yang tidak etis, sebab hanya  berkonsentrasi pada peningkatan kekayaan para pemegang saham, tetapi mengabaikan kepentingan pihak2 terkait alias pemangku2 kepentingan (stakeholders) lainnya seperti karyawan, pemasok dan pelanggan serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Karena itu, alih-alih maximizing shareholders value, korporasi dihimbau agar maximizing stakeholders value.
Benturan Kepentingan?
Sekilas himbauan ini menemukan pembenarannya dan maximizing stakeholders value terkesan lebih etis dari maximizing shareholders value jika kita membayangkan terjadi benturan kepentingan antara shareholders dan stakeholders lainnya. Tetapi ini meragukan jika drenungkan lebih mendalam.
Sebuah perusahaan yang mengabaikan kepuasan  pelanggan sebagai salah satu stakeholdersnya dengan menjual produk dibawah standar untuk menekan biaya dan demi mengejar keuntungan maksimal akan kehilangan pelanggannya. Dengan pelanggan yang beralih ke produk dari perusahaan lain, cepat atau lambat perusahaan tersebut akan merugi dan bangkrut. Dengan cara ini, turut merugikan pemegang saham (sharehoders) dan juga pemangku2 jabatan (stakehoders) lainnya seperti karyawan dan pemasok. Karena sebuah perusahaan yang bangkrut bukan saja membuat para pemegang sahamnya merugi tetapi juga membuat karyawannya kehilangan pekerjaan dan pemasoknya kehilangan salah satu pelanggannya.
Sebuah perusahaan yang membebani pelanggannya dengan harga yang terlalu tinggi untuk produk dan/atau jasanya demi memaksimalkan laba akan tersingkir dari kompetisi. Sebaliknya, membebankan harga yang terlalu rendah demi memuaskan pelanggan akan membuat sebuah perusahaan sulit memperoleh laba dan akan mengalami kesulitan membayar dividen untuk para pemegang saham, gaji karyawan serta kewajibannya pada kreditur dan pemasok.
Demikian juga dengan kepuasan karyawan sebagai salah satu stakehodersnya. Perusahaan yang demi tujuan memaksimalkan laba membayar karyawannya dibawah standar dan/atau produktivitasnya akan ditinggalkan karyawannya dan sulit mencari tenaga kerja yang berkualitas. Akibatnya perusahaan tersebut sulit dikelola dan berkompetisi. Sebaliknya, perusahaan yang terlalu memanjakan karyawannya -dengan gaji dan/atau imbalan yang yang jauh diatas kemampuan dan produktivitas kerja karyawan tersebut- akan sulit berkompetisi dan tersingkir dari bisnis.
Kesimpulan
Argumentasi yang serupa juga dapat diterapkan untuk pemasok dan lingkungan disekitar perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang memaksimalkan nilai pemegang2 sahamnya (maximizing shareholders value) sudah dan harus selalu mempertimbangkan dan menyeimbangkan kepentingan antara shareholders dan stakeholders. Absennya benturan kepentingan disini membuat himbauan korporasi untuk maximizing stakehoders value alih-alih maximizing shareholders value terkesan ber-lebih2an dan tidak perlu. 
Admin