Total Pageviews

Saturday, 3 August 2013

Investasi Saham dan Edukasi Sehat


Jakarta, 3 Agustus 2013
Sebuah edukasi investasi saham yang sehat akhir2 ini merupakan barang langka. Yang sering dipromosikan adalah cara2 perdagangan (trading) saham dengan analisa pergerakan grafik harga saham atau yang lazim disebut dengan analisa teknikal (technical analysis). Janji2 muluk seperti imbal hasil yang konsisten rata2 5 persen atau lebih per bulan sampai dengan imbal hasil ratusan persen dalam hitungan minggu ditebar. Sesekali, keuntungan tersebut mungkin dapat diraih. Tentu saja dengan dibayangi oleh potensi kerugian yang setara. Tetapi jika membahas tentang konsistensi imbal hasil, aktivitas perdagangan saham ini patut diragukan.

Kejatuhan perusahaan2 sekuritas dan bank2 investasi (investment banks) global raksasa yang mengklaim dikelola secara profesional dan dilengkapi dengan teknologi informasi dan sistim komputerisasi yang canggih untuk mengakses, mengelola dan menginterpretasi data untuk keputusan jual beli saham tidak pernah menjadi pelajaran dan membuat jera para spekulan2 jangka pendek dalam mempromosikan teknik2 dan aturan2 perdagangan (trading techniques and rules) saham mereka. Tidak juga krisis hipotek perumahan (subprime-mortgage) tahun 2008 yang masih segar dalam ingatan dan yang meminta korban banyak perusahaan2 lindung nilai (hedge funds) dan bank2 investasi serta industri yang terkait dengan efek seperti kartu domino (domino effect): Satu jatuh, seluruh tatanan runtuh!
Bangkrutnya Lehman Brothers dan penalangan (bailout) beberapa perusahaan sekuritas, bank dan asuransi berskala global lainnya seperti Goldman Sachs, Bank of America (BofA), American Insurance Group (AIG) dst oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) menjadi contoh nyata dari efek domino ini.
Jika saja yang diperdagangkan berdasarkan analisa teknik/grafik ini masih berkisar pada saham2 dengan fundamental yang kuat serta horison investasi dan sumber pendanaannya lebih fleksibel, unsur spekulatif masih dapat diminimalisir. Alasan untuk memanfaatkan volatilitas pasar dan mengoptimalkan keuntungan masih dapat dan boleh diterima. Jika tidak, yang diperdagangkan hanyalah “pepesan kosong” alias saham perusahaan amburadul yang hanya didasari analisa penawaran dan permintaan (supply and demand) akan saham perusahaan jenis ini semata dan “dibumbui” dengan embel2 psikologi pasar (market psychology) agar terdengar rasional dan ilmiah.
Kasus ini mirip dengan arisan bodong yang membuat penarik awal arisan menuai keuntungan sedangkan yang terlambat hanya “gigit jari” alias menderita kerugian. Hanya saja, analisa teknikal ini dibekali dengan perkakas (tools) dalam bentuk analisa grafik untuk mengetahui kapan waktu (timing) untuk masuk (membeli saham) dan keluar (menjual saham) dari pasar. Walaupun persentase keakurasiaannyapun meragukan: Sangat tergantung pada popularitas teknik itu sendiri dan interpretasi para penggunannya! Pada akhirnya, tetap saja keuntungan para pemenang harus dibayar oleh kerugian para pecundang. Sebuah situasi menang dan kalah (win-lose situation) yang mengenaskan!
Sayangnya, banyak buku2 tentang perdagangan saham yang mengajarkan bahwa analisa teknikal tidak tergantung pada analisa fundamental dan sebaliknya (vice versa). Dan, dengan cara ini memisahkan secara ketat alias membangun dikotomi (dichotomy) antara analisa teknikal dan fundamental. Dikotomi ini juga banyak didukung oleh para spekulan2 saham yang memperhalus kegiatan spekulasi mereka dengan istilah “ berdagang”  alias “trading” saham.
Tentu, selama mereka menyadari bahwa kegiatan trading mereka pada saham2 dengan rekam jejak (track record)  dan tata kelola perusahaan (corporate governance)  yang buruk adalah kegiatan spekulasi sejati dan pendanaannya dari uang mereka sendiri serta siap menanggung risikonya, semuanya adalah urusan mereka sendiri dan dapat, setidaknya, dijustifikasi oleh mereka sendiri. Tetapi bagaimana kalau mereka mengelola dana orang lain yang mempercayakan uangnya pada mereka untuk kegiatan investasi dan bukan spekulasi?
Pertanyaan retoris yang serupa juga dapat dilontarkan dalam hal edukasi saham: Bagaimana dengan para investor pemula yang ingin mengenal dunia investasi saham sebagai salah satu alternatif investasi jangka menengah dan panjang yang lepas dari hiruk-pikuk pasar dan spekulasi jangka yang sangat pendek dalam hitungan hari dan minggu?
Investor legendaris Warren Buffet berpendapat bahwa sebutan yang tepat dan juga yang dibutuhkan untuk menganalisa investasi saham sebenarnya bukanlah analis saham (stock analyst) melainkan analis bisnis (business analyst). Ini mewakili horison investasi jangka panjangnya. Dia pernah berkata bahwa dia membeli saham dengan berasumsi bahwa bursa tutup keesokan harinya dan baru dibuka kembali 5 tahun kemudian. Artinya, dia siap menyimpan saham yang dibelinya paling tidak untuk lima tahun kedepan.
Tentu saja Buffet adalah contoh ekstrim dari seorang investor jangka panjang yang sangat memperhatikan fundamental dari perusahaan dimana dia berinvestasi. Tidak semua investor mempunyai kesabaran dan syaraf yang begitu kuat untuk menahan sahamnya selama jangka waktu seperti dia. Tetapi paling tidak dengan (memiliki kemampuan) mengevaluasi fundamental saham yang kita miliki dan secara berkala selama sedikitnya tiga bulan sekali bersamaan dan berdasarkan laporan keuangan kuartalan yang dipublikasikan, memberikan kita alat untuk memonitor dan mengevaluasi kinerja perusahaan dan menunjang keputusan membeli, menahan atau menjual. Lepas dari hiruk-pikuk pasar! 
Admin
Posting terkait: 
Mitos #1: Investasi Saham = Judi 

No comments: