Jakarta, 11 Maret 2016
Dunia berubah. Demikian juga cara
manusianya berinteraksi, berkomunikasi dan bertransaksi. Internet telah
menciptakan sebuah “dunia” lain yang bersamaan dalam konteks waktu pada
kehidupan manusia, yaitu dunia maya. Ini merubah cara manusia
beraktivitas sehari2: dari bekerja, belajar, sampai bermain.Waktu dan
tempat bukan lagi menjadi penghalang utama, tetapi infrastruktur
jaringan.
Perubahan2 yang terkait dengan penggunaan
teknologi digital pada semua aspek kehidupan manusia, itulah yang
merujuk pada transformasi digital. Kehadiran internet telah menciptakan
sebutan baru untuk generasi2 yang lahir sesudah penemuan dan akrab
dengannya: generasi Y, yang lahir diantara awal tahun 1980an dan awal
tahun 2000an. Mereka juga disebut millennials . Sejauh ini,
merekalah yang paling akrab dengan penggunaan internet untuk beragam
aktivitas melalui gadget2 berupa ponsel pintar (smartphones) dan beragam jenis komputer (tablet, notebook, desktop).
Bisnis juga bertransformasi seiring
dengan kehadiran internet. Ini untuk memanfaatkan peluang dan juga
tekanan persaingan dalam upaya mempertahankan dan memperluas pasar.
Digitalisasi secara ekstrim telah menghemat ruang dan waktu. Oleh karena
itu, biaya yang terkait dengannya. Dari sisi penawaran, biaya penyewaan
ruang untuk peragaan dan penjualan barang dan jasa tidak diperlukan
lagi. Demikian juga dengan biaya distribusi. Dari sisi permintaan, waktu
pencarian dan pembelian barang dan jasa menurun drastis. Biaya
transportasi yang terkait juga tidak diperlukan lagi.
Penetrasi Dan Konektivitas Internet
Transformasi digital dapat secara
kasarnya dibaca dan diukur dengan mengacu pada persentase penetrasi
internet pada populasi suatu wilayah. Per November 2015, sesuai dengan
data dari worldinternetstats.com
penetrasi internet dunia mencapai 46,4% atau sekitar 3,37 milyar jiwa
dari total sekitar 7,26 milyar populasi dunia. Amerika Utara menempati
peringkat teratas dengan penetrasi internet 87,9%. Disusul oleh benua
Eropa 73,5% dan kemudian benua Australia 73,2%. Posisi terakhir
ditempati oleh benua Afrika 28,6%.
Di benua Asia dengan populasi lebih dari
separuh penduduk dunia sekitar 4 milyar jiwa, penetrasi internet
mencapai 40,2%. Korea Selatan memimpin dengan penetrasi internet 92,3%
disusul oleh Jepang 90,6% dan Taiwan 84%. Negara Tiongkok (tanpa
Hongkong dan Makau) dengan populasi terbesar di Asia sekitar 1,36 milyar
jiwa, hanya mempunyai penetrasi internet sebesar 49,5%. Tetapi secara
angka absolut mempunyai pengguna internet terbanyak di Asia, yakni 644
juta jiwa.
Berdasarkan data facebook.com,
Indonesia mempunyai 78 juta pengguna internet dan membentuk 30,5%
penetrasi internet dari sekitar 256 juta penduduknya. Jauh dibawah
negara tetangga terdekatnya Malaysia 67% dan Singapura 82%. Tetapi
secara angka absolut jauh diatas Malaysia yang hanya 3,7 juta pengguna
dan Singapura 1,2 juta pengguna.
Salah satu faktor yang mendukung transformasi digital adalah kenyamanan berinternet dimana Kecepatan Konektivitas Internet (Internet Connectivity Speed/ICS) sangat berperan. Akamai, sebuah perusahaan jasa Jaringan Distribusi Konten (Content Delivery Network/CDN) berbasis di Cambridge,
Amerika Serikat, yang datanya sering dirujuk oleh media2 internasional
merilis laporan mengenai Kecepatan Konektivitas Internet (Internet Connectivity Speed/ICS) tahun 2015 untuk 55 negara (akamai.com; stateoftheinternet.com; wikipedia.org).
Secara rata2, ICS dunia adalah 5,1 Megabytes per detik (Megabytes per second atau Mb/s). Korea Selatan berada didaftar dengan peringkat tertinggi 20,5 Mb/s, disusul oleh Swedia 17,4 Mb/s dan Norwegia 16,4 Mb/s.
Amerika Serikat, salah satu negara dengan
penetrasi internet tertinggi didunia yakni 87,4%, hanya menempati
peringkat ke 14 dengan rata2 ICS 12,6 Mb/s.
Indonesia berada diperingkat 50 dengan rata2 ICS 3,0, dibawah rata2 ICS dunia dan negara2 tetangga terdekatnya Malaysia (4,9 Mb/s dengan peringkat ke 39) dan Singapura (12,5 Mb/s dengan peringkat ke 15).
Informasi yang perlu diperbarui secara
berkesinambungan dan dianalisa lebih mendalam mengenai peranan dan
kondisi digitalisasi di Indonesia diharapkan dapat membantu pelaku
bisnis serta pemerintah dalam menyusun strategi jangka panjangnya untuk
membangun infrastruktur teknologi, terutama tetapi tidak terbatas,
teknologi informasi serta pengembangan sumber daya manusianya. Sebab 78
juta jiwa pengguna internet dengan potensi pertumbuhan yang tinggi dalam
waktu dekat bukan hanya pangsa pasar yang menggiurkan untuk pelaku
bisnis, tetapi juga secara politis dapat digunakan untuk memperkuat
peranan edukasi media internet untuk merealisasi dan mengakselerasi
revolusi mental yang sering dikumandangkan. Agar bukan hanya menjadi
slogan belaka dan “mental” seperti bola yang terpantul balik oleh tiang
gawang alias gagal mencetak gol :)
Admin
